Logo Keuskupan & Filosofi

Lambang itu berintikan

  • Sebuah perahu phinisi, yaitu perahu layar tradisional yang terkenal dari Sulselra, yang sedang melayari lautan. Ini melambangkan Gereja, khususnya Gereja partikular Makassar, dalam perjalanan peziarahannya.

Gereja itu harus menjadi sebuah rumah bagi semua, tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka: Gereja adalah keluarga Allah. Itulah makna dari dua model rumah tradisional Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang tergabung menjadi satu di atas perahu pinisi.

  • Di latar depan ada salib dan anak domba. Anak domba itu ada hubungannya dengan bab-bab pertama Injil Yohanes, dari mana semboyan diambil. Di situ Yesus ditampilkan sebagai Anak Domba Allah. Jadi Anak Domba Allah, yang mati di atas salib, “HARUS MAKIN BESAR, tetapi aku harus makin kecil” – “ILLUM OPORTET CRESCERE, me autem minui” (Yoh. 3:30). Dia menemani Gereja “selalu sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).
  • Selanjutnya, menutupi lambang dari atas adalah tudung-kepala atau terendak tradisional yang terbuat dari bambu (di Toraja) atau dari daun nipah (di tempat-tempat lain di Sulawesi). Ini digunakan penduduk untuk melindungi diri khususnya dari terik matahari ketika mereka sedang bekerja memotong padi di sawah. Di sini digunakan untuk melambangkan perlindungan ilahi dari atas, dan dengan demikian berkaitan dengan semboyan dua Uskup terdahulu, Mgr. Theodorus Lumanauw dan Mgr. Frans van Roessel, CICM. Keduanya menggunakan semboyan yang sama, “SUB UMBRA ALARUM TUARUM” – “DI BAWAH NAUNGAN SAYAPMU sembunyikanlah aku” (Mzm. 17:8).

Demikianlah lambang Keuskupan itu sengaja menggunakan unsur-unsur tertentu dari tradisi budaya setempat untuk mengungkapkan cita-cita terdalam membangun Gereja lokal ini sungguh tertanam dan berakar di dalam dinamika budaya Sulawesi Selatan dan Tenggara.